Saturday, 6 June 2015

Wahyu dan Gravity

Narumi - Teknik Infomatika - 1701304651



Senin, 18 Mei 2015

Jadi ceritanya pada suatu pagi yang tidak terlalu cerah ataupun mendung, saya dan kelompok pergi ke Yayasan Sekar untuk kedua kalinya untuk melakukan pengajaran. Kami pergi pada pukul 08.15 dari Lawson setelah janji yang sebenarnya pada pukul 07.00 WIB.
Perjalanan ditempuh dalam kurun waktu 30 menit sampai 45 menit dengan menggunakan motor dari Lawson, Syahdan menuju Yayasan Sekar, Penjaringan. Ketika kita sampai disana, awalnya tempat pengajaran kelihatan sepi, hanya ada beberapa anak yang diperkirakan berada dijenjang SMP yang sedang berada didalam sambil bermain gitar. Lalu tak lama kemudian, terlihat Pago, anak yang diajar oleh Clinford pada pertemuan sebelumnya. Ia pun segera masuk untuk mengambil buku pelajarannya dan memanggil teman-temannya.
Sambil menunggu anak-anak yang lain datang, kami pergi menyapa beberapa pengurus Yayasan Sekar dan mengobrol dengan beberapa anak didalam. Tapi sebelum masuk kedalam ruang belajar, beberapa anak tingkat SD datang dan memberi salam kepada kami. Ada Ayu, Irin, Elsa dan Natalia, mereka baru saja datang setelah jajan.

“Kalian mau belajar apa?” tanyaku pada mereka.
“Kak, ajari kami menggambar dong, kak.”
“Boleh, kalian ambil alat tulis dulu ya, nanti kakak gambarin.”
“Ok deh kak.”

Mereka pun langsung pergi ke dalam ruko untuk mengambil peralatan mereka. Aku pun langsung masuk kedalam dan berbicara dengan beberapa anak sambil menunggu mereka. Dan tiba-tiba saja Wahyu datang menghampiriku.
“Kak, ada pr ips,” ucapnya sambil membuka buku cetak serta catatannya. “Hm…coba kakak lihat.” Total soalnya terdiri dari 30 pilihan ganda dan topik babnya adalah mengenai masa penjajahan sampai masa kemerdekaan. Sambil aku mengecek jawaban yang telah diisi oleh Wahyu; Elsa, Irin dan Ayu datang sambil membawa tas dan peralatan mereka lalu mengambil meja kayu yang tersusun rapi keatas dan menyusunnya bagaikan garis lurus di dekatku dan mengeluarkan buku, serta peralatan melukis mereka.  “Kak, gambarin aku dong.” Aku langsung saja menggambar sambil melihat ke arahnya, ya meskipun tidak mirip. “Ih, gambar kakak bagus deh,” ucap Ayu sambil melihat aku menggambar. “Aku juga mau dong, kak,” kata Irin yang terlihat cemburu.
Irin dan Ayu suka menggoda setiap kakak-kakak yang datang ke yayasan. Mereka meminta data kakak pengajar seperti nomor handphone, alamat dan sebagainya. Berbeda dengan Elsa, Elsa anak yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara, bisa terbilang dia adalah anak yang spesial dan sensitif.
“Kak, tolong gambarin dong.”
“Elsa mau digambarin apa?”
Aku menggambarkannya berbagai macam gambar, seperti perempuan dengan kerudung, baju dress panjang bermotif bunga dan hati, bunga dan kupu-kupu, pekarangan rumah dan masih banyak lagi. Dia pun dengan senang hati mewarnai setiap gambar yang aku gambar dengan pensil warnanya. Sambil menunggu Elsa selesai mewarnai, akupun membantu Wahyu dengan pr ips yang membingungkan itu.

“Kak, kakak gak bisa ngomong r ya?” ucap Ayu tiba-tiba.
“Iya, kakak cadel,” jawab ku.
“Tapi katanya kalo ga bisa ngomong r, bahasa inggrisnya bagus loh,” Wahyu membela ku sambil menggambar sebuah gravity sambil menungguku memberikan jawaban dari tugasnya.
“Coba dites.” Ayu mengambil kotak melukis Elsa dan ditutupnya terdapat penjelasan dengan bahasa inggris dan memintaku membacanya. Akupun membaca tulisan itu dan mengartikannya untuk mereka. Ayu dan Irin hanya bisa terdiam mendengarnya sementara Wahyu pun tertawa. “Benarkan~”

Tak lama kemudian, tugas Wahyu pun akhirnya selesai juga. Wahyu pun melanjutkan gravity nya dan ternyata dia sedang membuatkan satu untukku.




Lalu setelah tugas Wahyu dan mengajari yang lain menggambar dan mewarnai selesai, aku mengajak mereka untuk berfoto bersama.



Setelah bermain sebentar dengan para anak-anak, kami pun berfoto bersama lalu berpamitan kepada mereka serta penjaga yayasan.



No comments:

Post a Comment