Narumi - Teknik Infomatika - 1701304651
Senin, 18 Mei 2015
Jadi ceritanya pada suatu pagi yang tidak terlalu cerah
ataupun mendung, saya dan kelompok pergi ke Yayasan Sekar untuk kedua kalinya
untuk melakukan pengajaran. Kami pergi pada pukul 08.15 dari Lawson setelah
janji yang sebenarnya pada pukul 07.00 WIB.
Perjalanan ditempuh dalam kurun waktu 30 menit sampai 45
menit dengan menggunakan motor dari Lawson, Syahdan menuju Yayasan Sekar,
Penjaringan. Ketika kita sampai disana, awalnya tempat pengajaran kelihatan
sepi, hanya ada beberapa anak yang diperkirakan berada dijenjang SMP yang
sedang berada didalam sambil bermain gitar. Lalu tak lama kemudian, terlihat
Pago, anak yang diajar oleh Clinford pada pertemuan sebelumnya. Ia pun segera
masuk untuk mengambil buku pelajarannya dan memanggil teman-temannya.
Sambil menunggu anak-anak yang lain datang, kami pergi
menyapa beberapa pengurus Yayasan Sekar dan mengobrol dengan beberapa anak
didalam. Tapi sebelum masuk kedalam ruang belajar, beberapa anak tingkat SD
datang dan memberi salam kepada kami. Ada Ayu, Irin, Elsa dan Natalia, mereka
baru saja datang setelah jajan.
“Kalian mau belajar apa?” tanyaku pada mereka.
“Kak, ajari kami menggambar dong, kak.”
“Boleh, kalian ambil alat tulis dulu ya, nanti kakak
gambarin.”
“Ok deh kak.”
Mereka pun langsung pergi ke dalam ruko untuk mengambil
peralatan mereka. Aku pun langsung masuk kedalam dan berbicara dengan beberapa
anak sambil menunggu mereka. Dan tiba-tiba saja Wahyu datang menghampiriku.
“Kak, ada pr ips,” ucapnya sambil membuka buku cetak serta
catatannya. “Hm…coba kakak lihat.” Total soalnya terdiri dari 30 pilihan ganda
dan topik babnya adalah mengenai masa penjajahan sampai masa kemerdekaan.
Sambil aku mengecek jawaban yang telah diisi oleh Wahyu; Elsa, Irin dan Ayu
datang sambil membawa tas dan peralatan mereka lalu mengambil meja kayu yang
tersusun rapi keatas dan menyusunnya bagaikan garis lurus di dekatku dan
mengeluarkan buku, serta peralatan melukis mereka. “Kak, gambarin aku dong.” Aku langsung saja
menggambar sambil melihat ke arahnya, ya meskipun tidak mirip. “Ih, gambar
kakak bagus deh,” ucap Ayu sambil melihat aku menggambar. “Aku juga mau dong,
kak,” kata Irin yang terlihat cemburu.
Irin dan Ayu suka menggoda setiap kakak-kakak yang
datang ke yayasan. Mereka meminta data kakak pengajar seperti nomor handphone,
alamat dan sebagainya. Berbeda dengan Elsa, Elsa anak yang pendiam dan tidak
terlalu banyak bicara, bisa terbilang dia adalah anak yang spesial dan
sensitif.
“Kak, tolong gambarin dong.”
“Elsa mau digambarin apa?”
Aku menggambarkannya berbagai macam gambar, seperti
perempuan dengan kerudung, baju dress panjang bermotif bunga dan hati, bunga
dan kupu-kupu, pekarangan rumah dan masih banyak lagi. Dia pun dengan senang
hati mewarnai setiap gambar yang aku gambar dengan pensil warnanya. Sambil
menunggu Elsa selesai mewarnai, akupun membantu Wahyu dengan pr ips yang
membingungkan itu.
“Kak, kakak gak bisa ngomong r ya?” ucap Ayu tiba-tiba.
“Iya, kakak cadel,” jawab ku.
“Tapi katanya kalo ga bisa ngomong r, bahasa inggrisnya
bagus loh,” Wahyu membela ku sambil menggambar sebuah gravity sambil menungguku memberikan jawaban dari tugasnya.
“Coba dites.” Ayu mengambil kotak melukis Elsa dan
ditutupnya terdapat penjelasan dengan bahasa inggris dan memintaku membacanya.
Akupun membaca tulisan itu dan mengartikannya untuk mereka. Ayu dan Irin hanya
bisa terdiam mendengarnya sementara Wahyu pun tertawa. “Benarkan~”
Tak lama kemudian, tugas Wahyu pun akhirnya selesai
juga. Wahyu pun melanjutkan gravity nya
dan ternyata dia sedang membuatkan satu untukku.
Lalu setelah tugas Wahyu dan mengajari yang lain
menggambar dan mewarnai selesai, aku mengajak mereka untuk berfoto bersama.
Setelah bermain sebentar dengan para anak-anak, kami pun
berfoto bersama lalu berpamitan kepada mereka serta penjaga yayasan.




No comments:
Post a Comment